Perayaan HUT VII

Setelah 2 tahun masa pandemi, akhirnya Komunitas Meditasi Kristiani Paroki Santa Maria Fatima Banyumanik, bisa berkumpul bersama dalam perayaan Ulang Tahun VII pada Hari Selasa, 15 November 2022 bertempat di aula St Anna, kompleks Wisma Lansia Harapan Asri Banyumanik. Dengan penuh sukacita para meditator saling berjumpa satu dengan yang lainnya. Ibadat syukur yang dihadiri oleh sekitar 70 meditator ini dipimpin oleh Bruder FX Bayu Adhi Prasetya, CSA, dengan iringan musik meditatif yang dibawakan oleh teman-teman dari komunitas Taize Paroki Banyumanik, "Jubilate Deo". Nampak juga beberapa wakil dari komunitas MK Paroki lain, seperti Bongsari, Lampersari, Sambiroto, Karangpanas, dll. 
Dalam homilinya Bruder Bayu menyampaikan bahwa penghalang terbesar dalam meditasi kristiani adalah Sang Ego, bahkan dalam doa bisa berkembang egoisme rohani yang mewujud dalam keinginan untuk berhasil dalam doa, mendapat macam – macam rahmat dan karunia, dan mendapat kepuasan dalam doa. Para meditator bisa belajar dari semangat Bartimeus, orang buta yang dengan penuh iman dan harapan, berteriak– teriak memanggil Yesus tanpa henti. Seperti Bartimeus, aku duduk, miskin dan malang, tetapi penuh iman dan harapan bahwa Yesus akan mendengarkan seruan doa/mantraku: MA–RA–NA–THA, datanglah ya Tuhan. Keheningan meditasi sekaligus merupakan ungkapan kemiskinan rohani dan penghayatan iman–kepercayaan dan harapan kita. Hanya Dia yang mau saya cari. Dia sajalah yang dapat membuka mata hati kita sehingga kita boleh melihat Dia dalam iman. Kasih Tuhan membuka hati hingga kitapun dapat mengasihi Dia yang hadir dalam semua ciptaan. 

    Barangkali banyak orang mengalami kekeringan rohani, menemui kesulitan, kebosanan, dan pelanturan saat meditasi. Kisah Bartimeus mungkin bisa membantu kita untuk tetap duduk tekun di pinggir jalan sambil berseru: Maranatha. Tuhan Yesus akan lewat dan mendengarkan seruan kerinduan hati kita. Makin miskin kita, makin luas tempat bagi Yesus di hati kita. Inilah yang dimaksud oleh sabda Yesus di bukit: "Berbahagialah kamu yang miskin dihadapan Allah". Semoga seperti Bartimeus kita semakin bertekun dalam meditasi, sehingga kita semakin mengenal Allah dan dibebaskan dari belenggu ego kita. 

Setelah ibadat selesai, dilanjutkan dengan acara pemotongan tumpeng oleh Bruder Bayu yang diserahkan kepada ketua MK Banyumanik Ibu: Tutik Sinaga, lalu diestafetkan kepada Sdr. Christoforus Agung Swastika sebagai simbol regenerasi. Ibu Tutik Sinaga dalam kesempatan ini berpesan bahwa usia 7 tahun bukan lagi usia balita, tetapi sudah sekolah, sudah mulai pintar namun tidak boleh sombong, dan harus selalu rendah hati. Kita diajak belajar dari kisah Bartimeus dan sabda Bahagia “Berbahagialah yang miskin dihadapan Allah”. Maka para meditator diajak berjuang bersama mendalami dan menghidupi doa hening untuk selalu belajar dan belajar terus menjadi pribadi yang setia dan rendah hati, sehingga buah buah meditasi bisa dirasakan dan dinikmati oleh siapapun yang dijumpai dan dilayani. Proficiat untuk semuanya, semoga tetap semangat dalam menebar benih kontemplasi. 

    Turut hadir dalam acara ini, ibu Ratna Tusita Kordinator MK paroki di kota Semarang. Beliau mengucapkan proficiat, selain untuk ulang tahun juga karena di Banyumanik telah berkembang MK Anak, MK Remaja & OMK, MK Lansia dan MK umum. Semoga tetap setia dan tekun dalam bermeditasi.